Banyak penonton awam yang menganggap bahwa anime dan kartun merupakan jenis konten yang sama. Memang, keduanya adalah jenis konten animasi, tapi faktanya perbedaan anime dan kartun sangat banyak. Lebih dari sebatas perbedaan penyebutan, yaitu anime dari Jepang dan kartun (cartoon) lebih general dari berbagai negara, berikut 10 perbedaan krusial keduanya.
1. Anime: Alur Cerita Bisa Panjang dan Bertahap, Kartun Lebih Episodik
Salah satu pembeda paling mencolok antara anime dan kartun terletak pada alur cerita atau struktur narasinya. Anime populer dengan format story arc atau alur cerita bersambung dan tentunya lebih kompleks. Satu seri anime bisa memiliki hingga ratusan episode yang semuanya saling berkaitan dan penonton diajak untuk setia mengikuti perjalanan tersebut.
Ketinggalan satu episode yang menyertakan detail kecil tapi penting, membuat penonton bisa gagal mengikuti episode-episode selanjutnya. Contoh nyata dari hal ini adalah serial seperti One Piece atau Naruto, yang alurnya dibangun secara perlahan (slow burn) menuju klimaks epik. Berbanding terbalik dengan kartun barat yang menggunakan format episodik. Apa artinya episodik?
Maksudnya, setiap episode memiliki cerita yang berdiri sendiri (stand-alone). Masalah muncul di awal episode dan diselesaikan langsung di akhir episode tersebut. Jika membutuhkan closure yang panjang, maksimal hanya di satu episode selanjutnya. Jadi, penonton bisa menonton setiap episode secara terpisah tanpa kebingungan. Contohnya kartun Tom & Jerry atau SpongeBob SquarePants.
2. Gaya Visual Anime Lebih Detail, Kartun Lebih Sederhana
Berikutnya, perbedaan anime dan kartun adalah detail visual. Secara tampilan, keduanya memiliki sentuhan artistik yang berbeda. Anime sangat menekankan pada realisme proporsional karakter, sehingga tokoh-tokoh dalam anime mayoritas digambarkan dengan proporsi tubuh manusia yang mendekati nyata. Hanya saja untuk fitur wajahnya disesuaikan untuk menambah estetika, contohnya mata besar dan ekspresif.
Selain itu, latar belakang (background) dalam anime sering kali digambar dengan detail yang luar biasa memukau, misalnya tingkat pencahayaan, detail bayangan, dan tekstur alam semesta. Sementara di sisi lain, kartun cenderung mengadopsi gaya visual yang lebih sederhana, abstrak, dan tidak jarang karikatural atau lucu, apalagi untuk karya dengan genre komedi.
Fitur fisik karakter kartun biasanya sengaja dilebih-lebihkan untuk mendukung alur komedi, seperti kepala terlalu besar, tangan dengan empat jari, atau bentuk tubuh yang tidak anatomis. Baru kemudian latar belakangnya dibuat lebih flat atau sederhana agar fokus penonton tetap tertuju pada karakter yang sedang bergerak. Jadi, alur cerita tersampaikan dengan sempurna.
3. Anime Punya Banyak Genre Dewasa, Kartun Cenderung untuk Anak
Stigma bahwa animasi hanya untuk anak-anak berhasil dipatahkan oleh anime. Sebab, Jepang selalu memproduksi anime untuk berbagai demografi usia dan jenis kelamin. Ada Kodomomuke untuk anak-anak, Shonen untuk remaja laki-laki, Shojo untuk remaja perempuan, serta Seinen dan Josei yang khusus ditargetkan untuk pria dan wanita dewasa.
Sebaliknya, kartun di Eropa atau Amerika, terutama sebelum era streaming modern, terjebak dalam stereotip sebagai hiburan keluarga atau anak-anak (Saturday Morning Cartoons). Bahkan, setelah kehadiran genre “Adult Animation” seperti Family Guy atau Rick and Morty, mayoritas persepsi umum terhadap kartun sebagai hiburan ramah anak masih melekat kuat.
4. Anime Fokus pada Pengembangan Karakter, Kartun Tetap Konsisten
Karena anime memiliki alur cerita yang panjang dan membuat pengembangan karakter (character development) menjadi elemen vital. Tokoh utama dalam anime sering kali diperkenalkan sebagai sosok yang lemah atau naif, lalu seiring berjalannya waktu, mereka belajar dari rasa sakit dan trauma, lalu tumbuh lebih kuat. Perkembangan tersebut juga bersifat permanen.
Berbeda dengan tokoh kartun yang cenderung statis atau konsisten, baik secara usia maupun karakter. Contohnya seperti karakter Mickey Mouse, Bugs Bunny, atau Bart Simpson tidak pernah benar-benar berubah sifat atau usianya meskipun serial tersebut sudah berjalan puluhan tahun. Hal ini dilakukan agar karakter tetap ikonik dan mudah dikenali generasi baru.
5. Teknik Animasi: Anime Hemat Gerakan, Kartun Lebih Dinamis
Perbedaan anime dan kartun secara teknis juga cukup mencolok. Anime terkenal dengan teknik “limited animation” atau membatasi gerakan. Animator Jepang sering kali menggunakan trik visual ini yang lebih fokus pada detail gambar diam (still shots), menggeser kamera (pan/zoom) pada gambar statis, dan hanya menggerakkan mulut dan mata karakter saat berdialog.
Gerakan penuh (full motion) biasanya disimpan untuk adegan pertempuran atau momen emosional yang penting atau yang dikenal dengan istilah Sakuga. Tujuan meminimalisir gerakan adalah untuk mempercepat durasi pengerjaan dan menghemat biaya produksi. Berbeda dengan teknis pembuatan kartun, terutama yang dipengaruhi oleh gaya Disney atau Golden Age of Animation.
Mereka cenderung selalu menggunakan teknik full animation dengan prinsip squash and stretch untuk memberikan kesan hidup dan dinamis. Hasilnya, gerakan dalam kartun sering kali terlihat lebih halus dan berkesinambungan, karena seluruh tubuh karakter bergerak saat berbicara atau bereaksi. Ini memberikan kesan energi meluap-luap yang jarang ditemukan dalam anime.
6. Cerita Anime Terhubung Antar Episode, Kartun Bisa Ditonton Acak
Poin ini berkaitan erat dengan poin pertama tentang alur cerita. Menonton anime membutuhkan komitmen waktu dan urutan. Sebab, alur ceritanya berkaitan antar episode dan acap kali menyelipkan petunjuk-petunjuk penting. Melewatkan satu episode saja bisa membuat Anda kebingungan dengan alur cerita di episode berikutnya.
Keterkaitan antar episode (continuity) pada anime sangat ketat, dan adegan menggantung (cliffhanger) di akhir episode menjadi senjata andalan untuk menciptakan kebingungan penonton. Sementara kartun memang diproduksi tanpa kedua elemen tersebut, mengingat tujuan produksinya untuk tontonan santai dan fleksibel. Bahkan stasiun TV bisa menayangkan episode secara acak tanpa menimbulkan kebingungan pemirsa.
7. Nuansa Budaya Jepang Kuat di Anime, Kartun Lebih Western Style
Nuansa budaya juga jadi perbedaan anime dan kartun yang krusial. Anime tidak bisa dipisahkan dari identitas asalnya; Jepang. Sekalipun bergenre fantasi, nuansa budaya Jepang tetap sangat kental. Mulai dari tata krama seperti membungkuk, penggunaan honorifik seperti -san dan -kun, menu makanan tradisional seperti ramen, hingga konsep spiritualitas Shinto dan Buddha.
Di sisi lain, mayoritas kartun cenderung mencerminkan budaya Barat, khususnya Amerika. Nilai-nilai seperti individualisme, sarkasme, kebebasan berpendapat, dan dinamika sosial sekolah Amerika sangat dominan. Gaya humornya juga jadi berbeda. Anime sering mengandalkan manzai (komedi ganda) atau reaksi berlebihan, sedangkan kartun cenderung menggunakan slapstick, ironi, dan dialog cepat yang penuh sindiran.
8. Anime Sering Mengangkat Tema Berat, Kartun Lebih Ringan & Lucu
Kedalaman tema adalah salah satu alasan anime memiliki basis penggemar dewasa yang fanatik. Anime tidak takut mengangkat tema-tema berat seperti kematian, eksistensialisme, depresi, perang, hingga korupsi moral. Judul-judul seperti Neon Genesis Evangelion atau Grave of the Fireflies adalah contoh animasi digunakan untuk menyampaikan pesan menyayat hati dan memancing pemikiran kritis.
Kartun, di sisi lain, umumnya bertujuan sebagai sarana eskapisme yang ringan. Fokus utamanya adalah hiburan dan komedi. Konflik yang terjadi biasanya sepele dan diselesaikan dengan cara yang lucu atau memberikan pesan moral sederhana. Meskipun ada momen sedih, tapi akhir cerita bahagia, sedangkan anime tidak jarang berakhir sedih (sad ending).
9. Durasi Episode Anime Lebih Stabil, Kartun Fleksibel
Industri anime memiliki standarisasi format tayang televisi yang cukup kaku. Hampir semua episode anime berdurasi sekitar 23 hingga 24 menit, sudah termasuk lagu pembuka dan penutup, untuk mengisi slot waktu televisi 30 menit, sementara sisanya durasi untuk iklan. Konsistensi ini memudahkan jadwal penayangan animenya, terutama untuk seri musiman.
Sementara kartun memiliki durasi yang jauh lebih bervariasi. Ada kartun pendek berdurasi 7 menit dengan format klasik teater, segmen 11 menit biasanya dua segmen digabung dalam satu slot tayang 30 menit, hingga format penuh 22 menit. Di era streaming, kartun bahkan lebih eksperimental dengan durasi, hingga berdurasi sekitar 3-5 menit.
10. Anime Banyak Adaptasi dari Manga/Novel, Kartun Jarang Berdasarkan Komik
Sumber materi adalah perbedaan krusial terakhir. Mayoritas anime yang beredar di pasaran adalah hasil adaptasi. Sumber utamanya adalah manga (komik jepang), light novel (novel ringan), atau game. Anime sering kali berfungsi sebagai media promosi untuk mendongkrak penjualan sumber asli adaptasinya. Oleh karena itu, jika manganya belum tamat, biasanya animenya menggantung.
Sebaliknya, banyak kartun yang merupakan karya orisinal (original screenplay). Kartun seperti Avatar: The Last Airbender, Adventure Time, atau Phineas and Ferb ditulis langsung untuk format animasi televisi tanpa pembuatan buku atau komik sebelumnya. Meskipun, ada kartun yang diadaptasi dari komik, seperti seri superhero DC atau Marvel, tapi tidak sebanyak anime.
Memahami perbedaan anime dan kartun sejatinya bukan bertujuan untuk menentukan yang lebih baik, melainkan memahami konteks dan tujuan artistik masing-masing karya. Anime menawarkan kedalaman cerita, pengembangan karakter, dan keragaman tema. Sementara itu, kartun menawarkan hiburan yang dinamis, humor yang cerdas, dan fleksibilitas tontonan yang cocok untuk media relaksasi tanpa beban.

